NGELMU IKU OLEHE KANTHI LAKU TAFSIR LOKAL ATAS MORALITAS PENDIDIKAN DALAM MASYARAKAT ISLAM TRADISIONALIS

23 07 2008

Dalam masyarakat Islam tradisionalis menuntut ilmu adalah sebuah pengabdian kepada Tuhan, segala yang terkait dengan proses mencari ilmu selalu diarahkan kepada tujuan tersebut. Seorang guru yang kemudian lebih dikenal dalam komunitas ini sebagai kiai, sangat dimuliakan, seorang kiai adalah pengemban amanat untuk menyebar luaskan ilmu-ilmu Allah kepada masyarakat banyak. Kiai mempunyai kedudukan tinggi secara sosial karena integritas moral dan karisma yang dimilikinya, selain adanya keyakinan publik bahwa mereka mempunyai kedekatan khusus dengan Tuhan.

Download Artikel untuk membaca selengkapnya.

Iklan




ANDHAP ASOR, PRACAYA LAN MITUHU (Moralitas Pemikiran Pendidikan K.H. Hasyim Asy’ari)

17 06 2008

KH. Hasyim Asy’ari dibesarkan dalam tradisi sufi dari golongan muslim tradisionalis Jawa, sedang dia menuntut ilmu dan berkiprah di masyarakat pada masa munculnya gerakan Wahabi dalam dunia Islam. Abad 19 di Jawa merupakan masa transisi yaitu masa dialog antara golongan santri tradisional dengan golongan modernis yang dipengaruhi oleh gerakan Wahabi dan Muhammad Abduh. Golongan modernis mengatakan bahwa Islam di Jawa telah tertinggal jauh, karena salah menafsirkan Islam dengan tujuan sufi dan percampuran Islam dengan budaya lokal.  Slogan golongan modernis adalah kembali kepada Al-Qur’an dan Hadits, untuk misi mereka adalah memurnikan ajaran Islam dari pengaruh-pengaruh budaya lokal.[i]

Sebagaimana tipologi kiai Jawa, KH. Hasyim melakukan penggabungan elemen-elemen Islam dengan budaya lokal dalam berdakwah, sepanjang praktek-praktek budaya lokal itu tidak bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam. Perpaduan semacam inilah yang digunakan oleh KH. Hasyim dan pengikutnya sehingga lebih mudah untuk diserap oleh sebagian besar masyarakat Jawa.[ii] Dia tidak pernah mencela orang-orang yang berbuat salah, tetapi secara pelan-pelan mendekati mereka dengan penuh ketulusan dan penghargaan. Dengan pendekatan yang bijaksana akan menarik masyarakat untuk meninggalkan kebiasaan buruk dan kembali kejalan yang benar. Perilaku yang tumbuh dari kesadaran akan lebih baik dan bertahan lama daripada disebabkan oleh kritik dan cercaan. Dia selalu menunjukkan kehidupan nabi sebagai contoh yang ideal, Nabi lebih cenderung memberikan nasihat dan bimbingan daripada kekerasan.[iii]

 

baca lengkap:artikel-2





PENOLAKAN KIAI NU TERHADAP RUU ANTI POLIGAMI PEMERINTAH KOLONIAL HINDIA BELANDA

17 06 2008

Dalam kontek historis rancangan undang-undang untuk melarang adanya praktek poligami dalam masyarakat Indonesia sudah ada sejak masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda, rancangan undang-undang anti poligami itu disebut dengan Ontwerp Ordonnantie Perkawinan Boemipoetra. Rancangan undang-undang ini sebetulnya mengadopsi undang-undang perkawinan sipil (Burgerlijk Staand) yang diberlakukan di negara-negara Eropa,[i] selain juga sebagai misi dakwah Kristen-Katholik tentang perkawinan monogami, dimana suami istri terikat dalam sumpah setia dengan pasangannya selama hidup, gerakan dakwah ini dilakukan oleh badan Bijbelgenoofschap.[ii]

Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dalam persoalan ini tidak terlalu gegabah untuk memaksakan pelaksanaan rancangan undang-undang anti poligami ini, sebab dalam persoalan agama pada masa itu Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menganut sistem netral.[iii] Pemerintah Kolonial Hindia Belanda melakukan sosialisasi tentang rancangan undang-undang anti poligami tersebut kepada seluruh perkumpulan Islam di Indonesia untuk mendapat tanggapan dari mereka, pandangan dan tanggapan perkumpulan-perkumpulan Islam tersebut yang akan dijadikan sebagai dasar pijak pemerintah kolonial untuk melegalkan rancangan undang-undang tersebut menjadi undang-undang atau mencabut kembali rancangan undang-undang tersebut.[iv]

Dalam melakukan sosialisasi rancangan undang-undang pemerintah kolonial selalu mendatangi  konggres-konggres (muktamar) yang dilakukan oleh perkumpulan-perkumpulan Islam di Indonesia, cara ini dilakukan agar rancangan undang-undang anti poligami tersebut menjadi salah satu agenda yang dibicarakan dalam konggres (muktamar) perkumpulan-perkumpulan Islam, sehingga pemerintah kolonial segera mendapatkan kesimpulan tentang pandangan dan tanggapan perkumpulan-perkumpulan Islam terhadap rancangan undang-undang anti poligami tersebut. Dalam setiap konggres (muktamar) perkumpulan-perkumpulan Islam pemerintah kolonial mengirimkan wakilnya.


[i]  Berita Nahdlatoel Oelama, No. 16, 1 Juli 1937.

[ii]  Badan ini sangat berhasil dalam melakukan misi kristenisasi, dilaporkan dalam masa pemerintahan Ratu Wilhelmina menunjukkan naiknya kwantitas pemeluk Kristen di Indonesia, di Jawa dari 15000 menjadi 60000, di Batak dari 40000 menjadi 400000, di Nias dari 5000 menjadi 120000 dan Toraja menjadi 60000, untuk daerah flores dari 20000 menjadi 500000. Badan ini dalam melakukan misinya sangat profokatif, seperti memberikan buku-buku Kristen gratis kepada umat Islam yang sedang melaksanakan Shalat Jum’at di Masjid Mangkunegaran Solo. Berita Nahdlatoel Oelama, No. 6 th. 8, hal. 16 B.

[iii] Ibid.

[iv] Berita Nahdlatoel Oelama, No.16, 1Juli 1937.

 

baca selengkapnya: artikel-3





Hello world!

17 06 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!